Stay@HomeMOmmY

Blognya Emak di Rumah ;)

Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga

duluuuu…waktu aku masih bekerja, menjalani peran ganda di kantor dan di rumah adalah hal yg paling menyenangkan. Bahkan saat aku jadi responden majalah Ayahbunda (no. 04 th 2005)utk artikel : Di rumah atau ngantor, enak mana ya? dg mantapnya aku bilang, aku memilih
ngantor ketimbang di rumah dg alasan,”saya merasa hidup lebih terarah karena punya tujuan untuk apa saya bekerja. Tak sekedar untuk diri sendiri,tapi juga mendukung finansial keluarga, serta memotivasi anak agar lebih baik dari saya”

Aku selalu merasa ‘bertugas’ di rumah adalah hal yg membosankan, enggak ada hasil yg terukur dg jelas dari aktivitas yg kita lakukan. Beda dg kerjaan kantor, yg selalu ada hasil yg nyata utk dilihat, misalnya dalam bentuk report untuk keperluan internal & eksternal perusahaan, appraisal dari pimpinan, dsb.

Tapi lama kelamaan peran ganda yg aku jalani jadi nggak imbang, karena di rumah Alya semakin besar, semakin mengerti dan menuntut kehadiran seorang ibu, sementara tanggungjawab di kantor juga semakin besar, sejalan dengan peningkatan karir, yang cukup menyita perhatian dan tenaga.

Kalo dulunya aku masih sempet susun menu buat Alya, selalu memantau mainan yg tepat utk tahapan umurnya, masih sempet browsing ke sana ke mari cari info ttg pertumbuhan anak, bahkan susun jadwal baju yg harus dia pakai ke sekolah selama 3 bulan (:D), belakangan ini dah
nggak bisa aku kerjakan (boro2 begitu, pulang kantor aja bisa sampe jam 11 malem kalo dah akhir bulan😦 ). Energi dah terkuras begitu ulang ke rumah. Kalopun masih sempat ketemu Alya malemnya, kita nggak sempet ngobrol banyak. Pas wiken, kita malah menghabiskan waktu dg jalan2, jarang ada di rumah, karena suamiku ngerasa ‘dosa’ ke Alya kalo wiken nggak ngajakin dia jalan. Otomatis badanku tambah capek, kurang istirahat.

Akhirnya, peran di dua dunia itupun jadi nggak maksimal buatku. Aku memutuskan berhenti kerja. Gaji perbulan yg cukup lumayan jumlahnya, jadi nggak bernilai jika dibandingkan dg apa yg didapat Alya dalam hari2nya.

Setelah menjalani kehidupan sebagai FTM (hampir 2 bulan ini), aku sempat culture shock…hehehe…bukan apa2, ternyata jadi FTM itu wuuuiihhh…berat banget, pekerjaan yg nggak mungkin, buat kita ajuin resign, pekerjaan yg nggak ada tolak ukur keberhasilannya
kecuali nanti saat anak sudah besar, jadi orang yg berguna dan berahlak baik.

Tapi secapek2nya aku jadi FTM, sekesel keselnya aku nyuapin Alya yg makan ngemut dan paling parah ampe 2,5 jam baru kelar, kehidupan seperti ini malah yg membahagiakan. Ada kebahagiaan saat dia bertutur manis dan berprilaku baik pada orang lain dan aku bisa
menepuk dada karenanya(hmh, hasil didikanku, tuh, bukan hasil tangan orang lain) dan ada hilangnya rasa kekhawatiran, Alya berada di tangan yg aman.

Gimana nggak, Sep th lalu aku punya BS baru setelah BS yg lama 3 th menemani Alya. BS yg baru ini, ternyata kalo lagi jengkel ma Alya, bisa mengurung Alya dalam kamar, membiarkan Alya membasuh sendiri vaginanya saat dia ngompol di lantai (jelas jadinya nggak bersih, pantatnya malah jadi ruam😦 ), bahkan pacaran dg pembantu tetangga dan memasukkannya ke dalam rumahku (untung nggak pake nginep)!

Begitu aku di rumah, setidaknya aku bisa merubah prilaku Alya perlahan2, misalnya sekarang dia sudah nggak suka usil lagi pipis di lantai🙂

Yg jelas, kalo mau jadi FTM, harus ada kegiatan, kalo cuma thok thok jadi ibu rumah tangga, waaahh…kayaknya bakal mumet abis deh. Fyi, agendaku setelah jadi FTM, jadi sopir Alya, nemenin dia sekolah, les, kadang aku jalan sama para ibues teman2 Alya (saat mereka pada sekolah), rutin internetan di jam2 tidurnya Alya (walau kadang suka bablas) dan jadi moderator BeingMoM.

Kalau memang ada panggilan ke arah sana (jadi FTM) dan suami mengijinkan, kenapa nggak dicoba?🙂

FYI lg,***, *** dan *** adalah figur2 yg membuatku berpikir untuk jadi FTM. Aku dulu sempet bingung lho, liat *** yg dah S2 dari MM ITB, *** yg S1 dan S2nya dari ITB, *** yg juga jebolan ITB, merelakan aktualisasi diri mereka demi kepentingan anak. Ini bukan ajang pamer almamater lho…tapi aku cuma mikir, susah kan, masuk ITB, ngapain juga sekolah tinggi2 kalo cuma di rumah aja?🙂 Tapi ternyata pertimbangannya emang banyak, …dan memang hidup adalah menentukan pilihan🙂

===========
sebenernya banyak yg bisa dikerjakan setelah berhenti bekerja. Jadi guru di taman bermain di dekat rumah, kursus bikin kue dan terima pesanan, ikutan bazaar dg jualan produk2 unik (fyi kalo ikutan bazaar di citos tiap hari rabu, katanya rame karena banyak bule yg beli), menjalankan bisnis waralaba(sayangnya aku nggak ulet untuk urusan bisnis2 an, senengnya ngoceh doang kayak di milis sekarang ini😉 huahahahaha….)dll.

Memang, kondisi paling enak, suami kerja keras di luar untuk cari nafkah, sementara kita di rumah pegang kendali, kontrol anak dan tetek bengek soal rumah tangga, selain itu ada usaha sampingan yg juga bikin kita punya ‘kerjaan’ kecil sekaligus mensupport finansial keluarga.

Kebetulan suamiku langganan tabloid kontan, di situ suka dibahas bisnis waralaba dari modal yg paling kecil sd ratusan juta. Ada estimasi perhitungan periode/lamanya pengembalian modal, juga
estimasi keuntungan per bulannya. Pernah denger Edam burger? (butuh modal 1 sd 3 jutaan) Tahu Daily Fresh Sweet Corn yg 1 cupnya 6000-7000 perak? (butuh modal 8-15 jt) Es krim cone campina? (butuh 2-3 juta).

Itu salah satu contoh waralaba yg butuh modal nggak terlalu gede, tinggal kitanya hunting tempat yg strategis, dan cari pegawai yg dapat dipercaya. Rata2 dalam hitungan bulan, modal sudah balik, dan keuntungan perbulannya, bisa 2-5 juta/bulan.

Berminat? Coba hub:
1. edam burger: Made 021 8621610,70750285
2. Daily Fresh & Swit Con 021 7504688, 7504694
3. sayang pas aku buka2 kontan, alamat utk es krim campina nggak ada

Pst, komisi 10% utk ongkos ngetik ya😉

1 Comment»

  iwuk wrote @

Mba,

Blog ini masukan banget buat aku. Kebetulan aku lagi bimbang untuk memutuskan berhenti kerja. Hati kecilku ingin banget berhenti kerja dan menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak2, dan lebih fokus memperhatikan kedua anakku, tapi masih bingung masalah segi financial. Secara apa2 sekarang semuanya mahal.😦 Insya allah, blog mba bisa memberikan inspirasi buat aku mengambil keputusan yang tepat.

Btw, aku baru menjadi anggota milist beingmom. Salam kenal yah, mba.

Salam,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: