Stay@HomeMOmmY

Blognya Emak di Rumah ;)

Stay @ Home Mom vs Working Mom

Abis baca pendingan email digest dari sebuah milis yg aku ikuti nih… Jujur aja sedih banget bacanya… Nggak habis2 SAHM/FTM vs WM diperdebatkan. Aku pernah jd WM juga …dan dulu sempat punya pemikiran,”kok mau2nya para wanita sekolah tinggi2 tapi malah di rumah….” atau sempat memandang rendah para ibu rumah tangga, dan membandingkan posisiku saat itu sebagai WM – yang saat itu emang sudah punya ‘posisi’ di kantor.

Semua jadi berubah setelah aku mencoba peran sebagai SAHM. Aku bisa melihat dari dua sisi karena dua dunia itu sudah aku jalani. Masing2 punya positif dan negatifnya, dan menurutku, mana yang terbaik, berpulang pada masing-masing pribadi dan kondisi masing2 keluarga.

Ada WM yg menulis di emailnya, mengapa dia menjadi WM, karena dia melihat contoh, anak2 dari WM lebih berhasil dibandingkan anak2 dari SAHM. Jujur, marah abis bacanya :p Emang ada bukti penelitian bahwa anak2 WM lebih berhasil dibandingkan anak2 SAHM? Diambil dari populasi mana, berapa sampling yg diambil, mewakili atau enggak…kok gampang banget bikin kesimpulan😀

Gitu juga waktu baca ada ibu2 SAHM yg menulis bahwa SAHM lebih ‘ibu’ karena mereka mengurus sendiri anak2 di rumah…🙂 Ah…cape dey bahasnya….

Kalo menurutku sih, hidup itu memberikan pilihan, mau berperan sebagai apa kita. Tinggal kitanya aja memainkan peranan itu sebaik mungkin, dan nggak perlu menepuk dada dan dengan sombongnya memandang diri lebih dari yang lain🙂

3 Comments»

  yoeltie wrote @

setuju, gak tiap WM merasa mantap meninggalkan anaknya dirumah saat harus kerja, dan gak tiap SAHM bisa 100% betul2 mendidik anaknya. Semua kembali ke individu masing2

  sari wrote @

hebat ga hebatnya anak mah tergantung ibunya menjalankan perannya sebagai ibu, bukan karena ibunya sahm atau wm. kalo ada ibu yang sahm atau wm ga bisa didik anaknya dengan baik, berarti telah terjadi disfungsi sosial terhadap dirinya sebagai ibu… :-p.

lebih lagi, kalopun ada ibu yang sahm ato wm itu telah berhasil mencetak kualitas sdm yang bagus, itu juga bukan karena murni keahlian si ibu menjalankan perannya sebagai ibu. menurut saya sih karena memang Tuhan maha pemurah hingga mau mendengar doa sang ibu -dan juga sang ayah- hingga anaknya menjadi anak yang berguna. makanya ada emak-emak yang ga ngecap pendidikan sama sekali juga mampu membesarkan anak-anaknya menjadi orang-orang yang canggih di masyarakat. (hehe.. sori mbak dev, lagi kepengen sok tau…)

  devita umardin wrote @

hahaha…bebas2 aja kok, komen d sini, asal buntutnya jangan jd debat kusir aja kek d milis2, cpd🙂 Bahasan tentang SAHM vs WM, mana yg lebih baik, sama aja kek ngeributin mana yg duluan, ayam apa telor :p

Cuma kita yg tahu mana yg terbaik utk keluarga dan diri kita sendiri, ya nggak?

Keberhasilan orang lain sebagai WM atau SAHM dalam mendidik anak, bukan jd tolak ukur bahwa kita dalam menjalani profesi yg sama akan mencapai keberhasilan yg sama🙂 Perjalanan utk sampe k titik BERHASIL buat anak2 kita saat ini, masih panjaaaaaang…banget….

Kalo pun akhirnya mereka berhasil, berarti kita sudah menjalankan tanggungjawab kita ke Tuhan dengan baik, berarti kita nggak usah khawatir saat melepas mereka untuk berdiri sendiri, karena mereka jd orang yg berguna buat diri mereka sendiri, keluarga mereka juga lingkungan sekitarnya. Kebayang nggak kl mereka jd orang yg gagal? Buntut2nya cuma nyusahin orang laen aja kan, termasuk orangtuanya hehehe…

Lah kan…jd panjang… kalo d suruh ceramah, mah, emang paling jago deh…praktek nyang suse :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: