Stay@HomeMOmmY

Blognya Emak di Rumah ;)

Saya Menangis untuk Kuningan

Dua tahun yang lalu, Kuningan adalah sahabat terbaik. Tempat itu adalah nyawa dan nafas bagi saya. Setiap sudut jalan, lorong-lorong sempit, juga resto2 kecil yang sunyi adalah saksi betapa waktu yang bergulir di setiap detiknya di Kuningan, adalah harta terindah bagi saya.

Tak banyak yang tahu betapa saya menikmati barisan yang panjang dari pedagang2 yang menggelar lapak, tak jauh dari tempat saya bekerja. Menikmati saat berjalan dengan tawa yang panjang bersama teman2 tempat saya bekerja, dengan mulut penuh bau makanan yg tersisa, dengan peluh yg menggenang di beberapa bagian tubuh.

Tak banyak yang tahu betapa saya menikmati lorong2 sempit di sana, tertawa dan menjerit kecil saat motor yang saya tumpangi melewati jalan-jalan berlubang. Saya menikmati sepinya orang lalu lalang, sepinya kebisingan mobil yang menggeliat ke kiri dan ke kanan, sepinya saya berdua dengan hati saya di tengah2 gedung yg menjulang.

Tak banyak yang tahu betapa setiap sudut Kuningan saya jelajahi saat makan siang tiba. Saya menyepi bersama hati saya, menikmati betapa indahnya hidup ini terasa. Semua terasa milik saya, milik hati saya.

Itu dua tahun yang lalu. Setelah itu, saya masih beberapa kali ke Kuningan. Tapi saya tak sempat bernostalgia. Mungkin karena setiap kali ke tempat ini, list things to do saya terlalu panjang. Tapi entah kenapa dengan hari ini. Setiap sudut jalan seolah melambaikan tangannya, memanggil-manggil saya untuk disinggahi. Resto2 tempat saya terbiasa menghabiskan waktu, seolah ingin habis saya masuki sepanjang makan siang tadi. Semua terasa menerbangkan saya ke masa-masa dua tahun yang lalu, di saat2 saya, hati saya, mendapatkan nyawa dan nafas di tempat itu.

Saya tahu semua sudah berubah. Saya, hati saya, tidaklah sama dengan dua tahun yang lalu. Sejalan waktu yang bergulir, ada banyak cerita yang terpahat, yang terukir, yang mengubah jalan cerita hidup kami dari hari ke hari.

Tapi sungguh, saya menitikkan air mata untuk Kuningan. Saya merindukan sudut2 jalan yang saya lalui, lorong2 sempit yang tersembunyi di balik gedung2 kantor yang menjulang, resto2 tempat saya biasa menghabiskan waktu.

Saya menangis untuk Kuningan. Menangisi sesuatu yang tak mungkin saya ambil kembali, menangisi sesuatu yang bukan milik saya lagi.

Saya tak tahu apakah kesempatan itu masih ada, kalaupun ada, apakah memang itu diperuntukkan untuk saya.

Devita, 17/1/08.
Mengenang Kuningan – lokasi tempat saya bekerja 2 th yg lalu.
Bukan untuk menyesali mengapa saya berhenti bekerja, tapi tempat ini, memang nafas dan nyawa bagi saya.

5 Comments»

  ida wrote @

mba devi….. euleuh2 kenapa jadi sensi gitu… sini sini tak peluk… hehehhe…. jangan menangis lagi ya…. kasih senyum yang mesra saja setiap kali melewati lorong2 itu…

  R Ismala wrote @

Untuk temanku yang menulis tentang Kenangan akan Kuningan, terimakasih.
Tulisan ibu mengingatkan saya pada hari kemarin ketika saya tiba-tiba sedih
mendengar lagu “Home” Michael Buble. Lagu yang mengingatkan pada rumah masa
kecilku di Sunter yang telah dijual sejak ibu meninggal dunia. Ya bu, itulah
hidup yang akan berjalan terus. Putaran waktu tidak dapat diputar ulang, tapi
kenangan akan selalu menjadi cermin yang terus menginspirasi kita.

DVT: Ismala adalah teman di milis KelasMenulis

  Yusty Arubadewi Affandi wrote @

Hai Mbak Devita…senang deh baca tulisan Mbak…
Punya kenang2an di Kuningan ya ? mmmm…saya baru selesai juga nulis
tentang “Cerita Jadul” yg sdh saya kirim ke teman2 dan anak2
saya yg sekarang tersebar di seberang lautan dan Kota seberang…Rata2
balasan mereka…”gw bacanya sambil nangis mom…hik..hik..hik..” atau
anak saya yg paling besar malah bales “mom, mestinya mom punya blog
sendiri tuh…”
Haaaahhhh….mana bisa n mana ngerti saya dgn masalah2 spt itu…saya
mah produk “jadul” cuma bisa yg tradisional2 aja he he he…
Mbak, tetap menulis dong…spy makin produktif spt Mbak Ismala yg sdh
sukses dgn Harian Republika…

DVT:dikutip dari email di milis Kelas Menulis

  Endah W Soekarsono wrote @

Tentang Kuningan, ya terasa mellow abiz, Devita. Saya juga punya kenangan tentang Kuningan, dari masa sekolah di SMA 3, masa kerja belasan tahun, sampai sekarang pun
selalu adaaaaa saja kaitan dengan Kuningan. Tapi saya rasa saya tidak
bisa menulis tentang Kuningan seperti itu๐Ÿ™‚

DVT: EWS adalah pembimbing di Kelas Menulis.com

  Rini Sukardjo wrote @

Untuk teman terbaik ku DEVITA…cerita tentang Kuningan membuat gw jadi bener2 mellow abis ampe menitikkan air mata and ga bisa berenti, because “I’M PART OF IT” dan bukan Kuningan aja kenangan tentang kita ber-3 (u know lah) hahahaha. Gw berbagi kenangan itu dengan kamu…memang semua ga bakalan bisa diulang kembali tapi yang terpenting dari kenangan itu gw dapat sesuatu yang terindah dalam hidup gw yaitu KAMU teman sejati gw yang selalu ada buat gw kapan pun gw mau. Thank u for being my best friend….miss u already and big hug honey…..๐Ÿ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: