Stay@HomeMOmmY

Blognya Emak di Rumah ;)

Garuda di Dadaku: bagai oase di padang pasir :)

Hari Sabtu kemaren, rencana nonton film Garuda di Dadaku akhirnya kesampean juga, jam 12 siang, sekalian ke tukang jahit (ayah hobi banget siy ke tukang jahit :p), si ayah antri tiket di bioskop deket rumah, dan brazil dapetin tiket untuk pertunjukan yg jam 17.20 aja!😉 Dan sorenya stelah jemput rombongan krucils juga si nenek, kami pun meluncur siap melihat GDD.

Secara keseluruhan filmnya top abis, kekurangan di sana sini pasti ada, tapi sebagai paket utuh, aku kasih acungan jempol deh buat film ini.

Hmmh, kenapa film ini recommended?
1. setelah perfilman Indonesia bangkit, penyakit film horor dan film2 yg mengumbar pornografi, marak lagi bermunculan di mana2, sementara film ini hadir memberikan tontonan yg bermutu dan mendidik buat semua orang. Terlebih untuk film anak2, tema film ini kreatif mengangkat sesuatu yg berbeda dari film anak2 sebelumnya.

2. ada pembelajaran 2 sisi, baik untuk orangtua, juga untuk anak. Pembelajaran untuk para orangtua, film ini membukakan mata, bahwa setiap anak berhak atas kehidupannya sendiri, berhak untuk menentukan apa yg ia suka dan menjadi apa yg ia mau. Tugas orang tua adalah mensupport penuh dan memberi arahan. Pembelajaran untuk si anak, mereka diajarkan untuk berani mengambil keputusan apa yg mereka inginkan sebenarnya, dan bertanggungjawab untuk komit dan melakukan yg terbaik atas pilihannya itu.

3. sindiran2 halus terhadap apa yg nyata terjadi di negeri ini disampaikan dengan gaya canda, juga sisi serius dari isi film, dapat diseimbangkan dengan bagian2 kocak dalam film ini.

4. pemain pendatang baru terutama pemain anak2 bermain dg natural, mungkin terutama karena aktivitas di film tsb adalah keseharian para pemainnya juga. Emir Mahira, sang pemeran utama, amat sangat menyenangi sepak bola dan sudah bergabung di Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal sejak dia kelas 5 SD (saat film dibuat Emir kelas 6SD). Makanya no wonder tendangan bolanya dari jarak jauh brazil tepat masuk ke kaca jendela kopaja/bus yg hanya terbuka sedikit dg mulus.

5. Ifa Isfansyah, 30th, sang sutradara, lulusan Television Department of Indonesian Institute of Art Jogjakarta th 2007, terpilih dalam Asian Film Academy Pusan Int’l Film Festival 2006 dan memenangkan program beasiswa Im Kwon Taek College of Film & Performing Arts. Sejak th 2001 aktif memproduksi film pendek, dan GDD adalah film panjangnya yang pertama😉

6. juga salut dengan Mizan Productions, yg selalu menelurkan film2 bermutu, setelah bekerjasama dengan Miles Production menghasilkan Laskar Pelangi, ini film ke 2 mereka, hasil kerjasama dg SBO films. Semoga selanjutnya bertumbuhan PH2 lainnya yg mengusung idealisme pendidikan untuk anak2 d balik alasan komersialisme semata.

7. skenario film ini dibuat oleh Salman Aristo, penulis yang menghasilkan dua film paling populer tahun 2008, “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi“.

Kekurangan untuk film ini, klimaks yg kurang menggigit dan beberapa konflik terasa dibuat mudah penyelesaiannya.

Intinya, buruan nonton film ini dan ga bakalan rugi deh🙂 Salut dan terimakasih untuk semua pihak yg sudah bekerja keras dalam pembuatan film ini, GDD bagai oase di padang pasir untuk perfilman Indonesia saat ini, terutama film yg mendidik untuk anak2.

Sumber:

http://www.garudadidadaku.com/
http://www.duniasoccer.com/index.php?action=jagoan.main
http://suporter.info/salman-aristo-garuda-di-dadaku-inspirasi-bakat-bakat-muda/

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: