Stay@HomeMOmmY

Blognya Emak di Rumah ;)

Film King: Dari Kacamata Minus Saya

Sesuai rencana, target kami kemarin adalah menonton film King. Tidak seperti minggu lalu saat menonton film Garuda Di Dadaku, di mana kami bisa menonton di bioskop dekat rumah, kali ini kami terpaksa mencari bioskop terdekat dengan arah tujuan perjalanan kami kemarin, maklum, list things to go and to do kemarin cukup panjang :p

Kami membayangkan pastinya film ini senasib dg GDD, kesulitan yang kami temui dalam menonton film ini pastinya adalah: antrian yg panjang. Nyatanya, kesulitan pertama yang kami hadapi, dari sekian banyak bioskop yg bertebaran di sekitar posisi kami berada, tidak semuanya memutar film ini! Saat browsing situs 21 cineplex (apalagi lewat hp selama dalam perjalanan, membuat saya tidak terlalu nyaman), rata2 setiap cineplex memutar film Transformers (bahkan lebih dari 2 studio hanya utk film tsb!) atau kalaupun film Indonesia, yg diputar adalah Ketika Cinta Bertasbih dan Garuda di Dadaku (stelah di rumah saya browsing lagi, ternyata hanya limabelas saja 21 cineplex di Jkt yg memutar film King, jauh lebih sedikit dibanding GDD yg diputar di duapuluh tujuh ataupun film Transformers yg diputar di tigapuluh dua 21 cineplex di daerah Jkt.

Akhirnya kami memilih menonton di Planet Hollywood. Aneh bin ajaib, sampai di depan loket tiket pukul 16.45, kami masih kebagian tiket di baris ke 8 pertama dari depan untuk pertunjukan pukul 17.05! Termasuk kategori sepi jika dibandingkan dengan GDD (via telp, saya juga mengecek salah satu 21 cineplex, tiket belum habis terjual satu jam sebelum pertunjukan)😦

Film King tak jauh berbeda dengan GDD, bertemakan olahraga, menggambarkan paksaan orang tua yg kental pada anak untuk mencapai ambisi pribadi orangtua, sekaligus memberikan pelajaran positif untuk anak2, bahwa keberhasilan dapat diraih hanya dengan perjuangan dan kerja keras.

Resensi film King mudah kita temukan di internet, dan melalui notes ini saya tidak akan menulis tentang isi cerita film tsb, tapi mencoba mengulas secara awam film tsb dari kacamata minus saya😉

King seperti produksi film Alenia pictures lainnya yaitu Denias – yang mendapatkan penghargaan sinematografi terbaik d FFI 2006, mampu menyajikan keindahan panorama daerah Jawa Timur dengan baik. (Benar2 acungan jempol untuk Yudi Datau!)

Tetapi sayang keindahan panorama tidak dibarengi alur cerita yang mengalir dengan baik. Terasa berat dan lamban dibandingkan GDD yg ‘menggelinding’ lebih lancar. Ada banyak bagian cerita yg dipaksakan masuk. Seperti misalnya awal persahabatan 3 sekawan Guntur – Michelle – Raden, dikisahkan dalam adegan2 tanpa kata yg berlarut2 tanpa makna kecuali hanya menyisakan kesan keindahan panorama. Beda dg awal persahabatan Bayu – Zahra – Heri di GDD, yang terlihat lebih alami terjadi dan mulus untuk disimak. Kehadiran Michelle dan ibunya yang juga tidak jelas profesinya apa di desa tsb, juga dipaksakan masuk hanya sekedar menandakan Michelle adalah murid baru di sekolah Guntur dan Raden.

Sebagai film yang mendidik, film ini cukup merepotkan. Saya harus berkali-kali memberikan penjelasan kepada si Kecil apa yg ada di film tsb tidak baik untuk ditiru. Ada banyak adegan yang menggambarkan bagaimana untuk mencapai tujuan yang baik, dilakukan dengan perbuatan tercela/mencuri bahkan barang milik teman sendiri. Misalnya saat Guntur merusak raket milik Bang Raino, untuk memperbaikinya, Raden mencuri senar gitar milik Bang Bujang, atau mencuri senar milik tukang balon, bahkan saat Guntur membutuhkan raket untuk bertanding, Raden mencuri raket milik Michelle yang notabene teman mereka sendiri. Jika di film GDD, Bayu dan Heri kucing2an dengan si kakek, berbohong ini itu untuk mencapai tujuan baik mereka, mencuri di film King jauh lebih tidak bisa ditolerir sebagai tontonan edukatif untuk anak2.

Juga saat terjadi konflik antara Guntur dengan ayahnya, dan Raden dengan Mbahnya, mengesankan seolah adalah wajar jika anak berkata kasar dan melawan orangtua (walaupun mungkin karena orangtua salah sikap dan kata pada anak). Beda dengan film GDD di mana Bayu walaupun tidak menerima sikap otoriter si kakek, dia memilih untuk diam dan tak melawan, bahkan saat si kakek mendapat serangan jantung, Bayu malah meninggalkan perjuangan dan mimpinya demi sang kakek.

Tapi di atas semua itu, film ini tetap memberikan pembelajaran yg positif buat anak2, tentang kerjasama, tentang kerja keras untuk mencapai keberhasilan.

Beda dengan Laskar Pelangi, Petualangan Sherina, Denias dan GDD, pemeran anak2 pada film King ini tidak bermain dengan gemilang, penokohan karakter mereka tidak kuat, kecuali si Raden yg terlihat lebih baik dalam bermain dibandingkan Guntur, si pemeran utama.

Masalah pemboikotan film ini oleh YLKI dan KPAI, karena alasan sponsorhip utama film ini adalah Djarum, perusahaan rokok, membuat saya prihatin. Ke dua badan tsb, mengkhawatirkan iklan terselubung rokok semakin meningkatkan konsumsi rokok di kalangan anak2. Padahal, sebagian besar tulisan Djarum (seperti di jaket dll) itu muncul di adegan2 yg berlokasi di PB Djarum, pembina klub bulutangkis ternama yang selama ini telah menelurkan pemain bulutangkis berprestasi seperti Liem Swie King, Christian Hadinata, keluarga Arbi (Hastomo, Eddy Hartono, Hariyanto), Ardy B.Wiranata, Alan Budi Kusuma, Sigit Budiarto, dan Fung Permadi*. Bagaimanapun, kita tidak bisa menutup mata bahwa keberhasilan olahraga bulutangkis kita dari dulu, tidak lepas dari campur tangan produsen rokok tsb.

Kalau saya saat ini jadi anak2, dg menonton film tsb yang saya ingat bukan PT Djarum dan membuat saya jadi ingin merokok, tapi saya akan mencontoh dengan baik dan benar peran para pemain tsb yg menghalalkan pencurian atas nama tujuan baik, yang menghalalkan berkata kasar pada orangtua atas nama ketidaksetujuan karena tidak menerima ‘penyiksaan’ orangtua.

Alangkah lebih baik KPAI menilik satu demi satu sinetron di TV terutama sinetron yg katanya untuk tontonan anak2, tapi memberikan efek negatif untuk perkembangan dan pendidikan anak, yang lebih buruk dari sekedar efek negatif tulisan Djarum yg berseliweran di film King.

Notes ini ditulis untuk tujuan positif, agar film2 edukatif untuk anak2 menjadi semakin baik lagi, dan pihak2 yg berkepentingan memberikan masukan positif dan membangun ketimbang menghujat dan membuat terpuruk pihak2 yg sudah bekerja keras menyajikan tontonan untuk anak2. Semoga kita semua bisa menerima masukan yg positif dan membangun sehingga setiap bentuk masukan dari sisi konsumen tidak berakhir di LP Wanita Tangerang ya😉

Cat:

Film ini diputar di:
http://www.21cineplex.com/playnow.cfm?id=2097&city_id=3

Sumber penulisan:

* http://pbdjarum.com/artikel/view/47

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: